Siantar Dilanda Banjir Sesaat Setelah Hujan Ekstrem Mengguyur Kota

Hujan ekstrem yang mengguyur Siantar menyebabkan banjir mendadak di sejumlah titik. Aktivitas warga terganggu, jalanan tergenang, dan petugas mulai melakukan penanganan di lapangan.

Kota Siantar kembali menghadapi situasi darurat setelah hujan ekstrem mengguyur wilayah tersebut dan memicu banjir mendadak di berbagai titik. Dalam waktu kurang dari satu jam sejak hujan turun dengan intensitas sangat tinggi, beberapa ruas jalan utama, kawasan permukiman, hingga pusat aktivitas ekonomi langsung tergenang air. Kondisi ini membuat warga kesulitan bergerak dan memicu kepanikan karena air naik begitu cepat tanpa memberikan waktu slot.

Banjir terjadi hampir bersamaan dengan puncak hujan deras yang mengguyur sejak sore hari. Langit yang tiba-tiba gelap disertai suara petir membuat banyak warga sudah bersiap menghadapi cuaca buruk. Namun, tidak ada yang menyangka aliran air akan membludak begitu cepat dari saluran drainase dan menggenangi jalan raya. Ketinggian genangan dalam waktu singkat mencapai 30–50 cm di beberapa wilayah, menyebabkan sepeda motor mogok dan mobil terjebak di tengah jalan.

Di kawasan pusat kota, banjir menghambat aktivitas pulang kerja warga. Banyak pengendara terpaksa berhenti di pinggir jalan karena air terlalu tinggi untuk dilalui. Arus lalu lintas menjadi semrawut, membuat kemacetan panjang di titik-titik strategis seperti perempatan utama dan depan pusat perbelanjaan. Warga yang hendak menuju rumah mengalami keterlambatan karena harus mencari jalur alternatif yang lebih aman.

Permukiman padat penduduk juga menjadi salah satu lokasi yang merasakan dampaknya. Di beberapa kelurahan, air masuk ke dalam rumah melalui pintu depan dan celah-celah lantai. Barang-barang seperti tikar, pakaian, dan perabot rumah tangga terendam air sebelum sempat diselamatkan. Keluarga yang memiliki anak kecil serta warga lanjut usia menjadi kelompok paling rentan dan membutuhkan perhatian lebih dalam situasi seperti ini.

Sementara itu, banyak pedagang kaki lima yang terdampak banjir mendadak ini. Lapak mereka yang berada di tepi jalan terpaksa ditinggalkan karena aliran air bergerak cukup cepat. Barang dagangan yang tidak sempat diangkat terendam dan mengalami kerusakan. Bagi para pedagang kecil, kerugian ini menjadi pukulan besar, terlebih karena musim hujan yang tidak menentu membuat situasi usaha semakin sulit diprediksi.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Siantar langsung merespons situasi begitu menerima laporan dari warga melalui hotline. Tim berkeliling ke titik-titik banjir untuk memantau kondisi air dan membantu evakuasi warga yang terjebak. Perahu darurat disiapkan di lokasi yang terendam paling dalam, terutama daerah dekat sungai kecil yang meluap akibat tidak mampu menahan debit air besar.

Selain itu, petugas kebersihan dan dinas pekerjaan umum ikut dikerahkan membersihkan saluran air yang tersumbat sampah. Tumpukan plastik, dedaunan, dan sedimen yang mengeras diduga menjadi penyebab utama air tidak mengalir lancar. Dengan membersihkan bagian-bagian yang tersumbat, petugas berharap air bisa surut lebih cepat dan meminimalkan kerusakan lebih lanjut.

Peristiwa banjir ini kembali menyoroti kondisi drainase di Kota Siantar. Banyak warga menilai saluran air di sejumlah wilayah sudah lama tidak mendapatkan perawatan optimal. Endapan tanah serta sampah rumah tangga menjadi masalah klasik yang terus muncul setiap musim penghujan. Warga berharap pemerintah dapat melakukan pengerukan besar-besaran dan memperbarui infrastruktur drainase agar kejadian banjir mendadak dapat diminimalisir.

Selain faktor drainase, kondisi geografis daerah yang memiliki banyak aliran kecil serta kawasan rendah juga berperan besar. Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi dalam durasi singkat, air tidak sempat terserap tanah dan langsung mengalir ke titik-titik cekungan. Fenomena perubahan iklim yang membuat cuaca semakin ekstrem turut menjadi faktor pendukung meningkatnya risiko banjir seperti ini.

Hingga malam hari, sebagian wilayah sudah mulai menunjukkan tanda-tanda surut, namun beberapa area yang berada di kontur rendah tetap tergenang. Warga diminta tetap berhati-hati, khususnya yang tinggal di dekat sungai atau drainase besar. Potensi luapan susulan masih mungkin terjadi jika hujan turun kembali.

Petugas terus memantau kondisi cuaca dan aliran air, sementara warga bersama relawan mulai membersihkan sisa-sisa lumpur yang terbawa banjir. Aktivitas normal diperkirakan dapat kembali dalam satu hingga dua hari, tergantung kondisi cuaca dan kecepatan penanganan di lapangan.

Banjir mendadak yang melanda Siantar menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan lingkungan perlu ditingkatkan. Kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat—baik dalam menjaga kebersihan saluran air, meningkatkan kesadaran bencana, maupun mengoptimalkan infrastruktur yang ada—menjadi kunci untuk mencegah dampak lebih besar di masa mendatang. Dengan langkah bersama, warga berharap bencana serupa tidak sering terulang dan Kota Siantar dapat kembali beraktivitas dengan aman dan tenang.